Uang Koin yang Terabaikan: Kebiasaan Kecil yang Memicu Tekanan Inflasi Diam-Diam

 “Uang Koin yang Terabaikan: Kebiasaan Kecil yang Memicu Tekanan Inflasi Diam-Diam”

Riller Katipana

Ekonomi belum tentu kalah oleh krisis,
kadang kalah duluan oleh gengsi yang malu memungut Rp500.
(Satire Milenial & Gen-Z, 2026)


I. Mengapa Uang Koin Mulai Hilang dari Peredaran? 

Di banyak wilayah, termasuk Ambon, uang koin perlahan kehilangan makna di mata masyarakat. Kembalian Uang Receh  sering ditinggalkan begitu saja, bahkan dianggap sekadar beban kecil yang merepotkan untuk dibawa. Padahal, dari kebiasaan yang terlihat sepele itu, tersimpan pengaruh ekonomi yang jauh lebih besar daripada nilai nominalnya.

Macetnya perputaran uang logam berdampak langsung pada kebijakan harga di tingkat pengecer/pedagang kecil. Fenomena pembulatan harga seperti menggenapkan angka ribuan yang tidak bulat (nominal ganjil contoh: Rp. 15.750 dibulatkan menjadi Rp. 16.000-dst) menjadi solusi praktis bagi pelaku usaha. Namun, kebiasaan ini secara kolektif melahirkan inflasi psikologis; sebuah kondisi saat kenaikan harga secara perlahan merayap naik dan akhirnya diterima oleh persepsi publik. 

Secara teoritis menurut pandangan para ahli fenomena ini, (Irving Fisher) Teori Money illusion menjelaskan bahwa individu cenderung fokus pada nilai nominal dibanding nilai riil uang, sehingga kenaikan harga kecil akibat pembulatan transaksi sering tidak disadari. Sementara menurut Keynes dalam Psychological Consumption Theory menjelaskan pengaruh perilaku konsumsi sangat dipengaruhi oleh faktor psikologi masyarakat, dalam pandangannya ia menyebutkan ketika masyarakat terbiasa membayar lebih, maka kenaikan harga kecil akan diterima tanpa resistensi besar. Dalam artian pada konteks uang receh, pembulatan harga menjadi perilaku yang dianggap praktis, sehingga tekanan inflasi muncul secara perlahan. Kemudian pendapat tersebut juga diperkuat (George KatonaBehavioral Economics Theory menjelaskan ekspetasi dan kebiasaan masyarakat sangat mempengaruhi perilaku ekonomi, dimana keputusan ekonomi yang sering tidak rasional dipengaruhi oleh kebiasaan sosial dan persepsi. Sebagai contoh masyarakat menganggap uang perak (recehan koin) tidak penting sehingga pembulatan harga sering dianggap wajar, padahal jika terjadi secara massal maka akan menimbulkan inflasi mikro, Selanjutnya (Khaneman & Tversky) Prospect Theory menjelaskan manusia cenderung mengabaikan kerugian kecil namun sensitif terhadap kerugian besar, asumsinya kehilangan uang receh dianggap tidak berarti padahal secara akumulatif dalam transaksi yang kecil sering kali membentuk tekanan ekonomi secara kolektif. Sesuai dengan sudut pandang Teori Ekspetasi Inflasi, ketika masyarakat memprediksikan harga akan terus naik maka perilaku ekonomi akan ikut berubah artinya para pedagang lebih mudah menaikan harga sementara para konsumen lebih mudah menerima pembulatan harga, secara tidak langsung hal ini menimbulkan inflasi psikologis sebelum inflasi nyata terjadi.

Kesimpulanya dilihat dari sudut pandang perilaku ekonomi, inflasi tidak selalu datang dari kebijakan pemerintah, melainkan dari saku kita sendiri. Kebiasaan menganggap remeh koin sebagai beban membuat kita menerima pembulatan harga tanpa protes. Saat kenaikan kecil ini mulai dianggap normal, terjadilah inflasi psikologis. Ini adalah peringatan bahwa pola pikir sehari-hari memiliki kekuatan untuk mendongkrak harga pasar secara perlahan namun pasti.

Secara sederhana alur fenomena yang terbentuk adalah :
Persepsi Nominal KecilEkspektasi HargaInflasi Psikologis

II. Inflasi Psikologis: Kenaikan Harga yang Dianggap Normal

Seperti yang telah dikemukakan bahwa inflasi psikologis yaitu kebiasaan membulatkan harga karena kelangkaan uang recehan secara perlahan mengubah standar harga di mata publik melalui dua poin utama yaitu Normalisasi Kenaikan Harga yang sedikit lebih mahal dianggap wajar karena kepraktisan dan Kemudian Inflasi Mikro   yang berasal dari akumulasi perilaku transkasi masyarakat yang menyebabkan tekanan inflasi dari akar rumput, bukan dari kebijakan moneter formal.

Secara fenomena dapat dilihat secara data berdasarkan indikator-indikator variabel yang terjadi melalui studi kasus dari 50 responden yang berasal dari pelaku usaha warung, toko ritel, para pedagang kecil lainya, dan sopir angkot/tukang ojek (transportasi umum, maxim, grab) di Pasar Mardika Kota Ambon :

1. Perilaku Pengabaian Uang Koin (X1)

Tabel.1

Pada tabel.1 secara keseluruhan, indikator Preferensi Pembulatan Transaksi menjadi kecenderungan yang paling dominan dengan nilai rata-rata tertinggi sebesar 3,56. Di sisi lain, meskipun Frekuensi Meninggalkan Uang Receh mencatat rata-rata terendah (3,04), angka tersebut tetap berada dalam kategori menengah. Sementara itu, indikator Tingkat Gengsi dan Penyimpanan Koin menunjukkan kesamaan pola perilaku di kalangan responden, dimana keduanya secara konsisten berada pada kategori tinggi.

2. Kebiasaan Pembulatan Harga (X2)

Tabel.2
Pada tabel.2 menjelaskan Praktik pembulatan harga oleh pelaku usaha ditemukan sangat masif, di mana 38% responden melaporkan intensitas yang sering dan 26% cukup sering. Kebiasaan ini pun tercermin dalam perilaku konsumen sebanyak 42% responden mencatatkan tingkat pembulatan transaksi harian yang tinggi. Angka-angka tersebut secara kolektif menunjukkan bahwa pembulatan harga bukan lagi pengecualian, melainkan bagian tetap dalam budaya transaksi sehari-hari.

Selanjutnya mengenai aspek ketidaksediaan uang pecahan kecil, sebanyak 34% responden menyatakan sering menghadapinya, sementara 28% lainnya mengaku terkadang mengalami hal serupa. Data ini menunjukkan bahwa kelangkaan uang receh masih menjadi kendala nyata dalam aktivitas belanja. Di sisi lain, tingkat toleransi konsumen terhadap pembulatan tercatat sangat tinggi mayoritas responden (44% bersikap toleran dan 20% sangat toleran). Dengan nilai rata-rata tertinggi sebesar 3,68, dapat disimpulkan bahwa masyarakat kini cenderung menganggap praktik pembulatan harga sebagai sesuatu yang wajar.

3. Budaya Konsumtif (X3)

Tabel.3
Terlihat pada tabel.3 menjelaskan terkait perilaku konsumsi impulsif, akumulasi data menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori tinggi 40% dan sangat tinggi 16%, dengan nilai rata-rata 3,44. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebiasaan belanja spontan tanpa perencanaan awal cukup mendominasi pola konsumsi mereka. Keputusan untuk membeli barang atau jasa cenderung dipicu oleh dorongan emosional sesaat di lokasi transaksi, alih-alih didasarkan pada daftar kebutuhan yang telah disusun sebelumnya. Kemudian faktor gengsi dalam transaksi menunjukkan pengaruh yang signifikan dengan angka modus pada kategori berpengaruh 38,% dan rata-rata skor 3,50. Temuan ini mengonfirmasi bahwa elemen harga diri, citra sosial, serta rasa sungkan menjadi pertimbangan utama masyarakat saat bertransaksi. Responden cenderung mengambil keputusan berdasarkan persepsi sosial, seperti menghindari penggunaan uang koin atau lebih memprioritaskan nilai prestise suatu barang dibandingkan kegunaan praktisnya. Selanjutnya tingkat Sensivitas terhadap promo menjadi indikator paling dominan dengan rerata 3,70. Sebanyak 46% responden masuk dalam kelompok tinggi dan 20% pada kelompok sangat tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa penawaran khusus seperti diskon dan potongan harga sangat mempengaruhi perilaku pasar. Konsumen cenderung menjadikan aspek promosi sebagai pertimbangan krusial dalam menentukan lokasi belanja atau barang yang akan dibeli demi mendapatkan keuntungan maksimal. Dan untuk Pola konsumsi modern menjelaskan transformasi budaya belanja dari tradisional ke arah yang lebih modern terlihat jelas dari akumulasi data responden (rata-rata 3,30). Dominasi pilihan pada kategori sesuai sebesar 36% memperlihatkan bahwa faktor-faktor seperti kecepatan, aksesibilitas, dan tren sosial kini lebih menentukan dibandingkan pola belanja lama. Singkatnya, konsumen masa kini lebih menghargai efisiensi dan pengalaman transaksi yang instan demi menunjang gaya hidup mereka yang serba cepat.

4. Digitalisasi Pembayaran (Z)
Tabel.4

Tabel.4 menjelaskan untuk indikator penggunaan QRIS/e-wallet  data mencerminkan keberhasilan penetrasi teknologi finansial, di mana sebagian besar responden sebanyak 44% sudah terbiasa menggunakan sistem pembayaran digital. Skor rata-rata 3,62 menegaskan bahwa metode seperti dompet elektronik telah menggeser preferensi pembayaran lama. Faktor utama di balik tren ini adalah keinginan konsumen akan pengalaman transaksi yang serba instan dan bebas repot (anti ribet), yang sepenuhnya ditawarkan oleh infrastruktur digital saat ini. Kemudian indikator intensitas transaksi nontunai mencatatkan nilai rata-rata tertinggi sebesar 3,64, dengan mayoritas responden sebesar 48% menyatakan sering menggunakannya. Temuan ini mengonfirmasi bahwa peran uang tunai kian tergerus dan mulai digantikan secara masif oleh sistem digital. Fenomena ini menandakan adanya transformasi perilaku transaksi yang fundamental, di mana masyarakat kini lebih mengandalkan kanal modern untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan pembayaran, baik dalam skala kecil maupun besar. Selanjutnya tingkat ketergantungan terhadap pembayaran digital tercatat cukup signifikan, dengan 42% responden merasa bergantung dan 16% menyatakan sangat bergantung dari nilai rerata 3,46. Data ini menunjukkan bahwa metode pembayaran digital telah bertransformasi dari sekadar pilihan alternatif menjadi kebutuhan pokok. Masyarakat kini menganggap sistem ini sebagai infrastruktur krusial, di mana transaksi tanpa dukungan teknologi digital dirasa menyulitkan dan tidak efisien dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Dan untuk indikator minimnya penggunaan uang fisik sebanyak 58% responden sepakat bahwa intensitas penggunaan uang tunai terus menurun, dengan skor rata-rata 3,48. Penurunan ini dipicu oleh perubahan perilaku masyarakat yang mulai enggan membawa uang fisik dalam keseharian mereka. Hal ini memperparah masalah kelangkaan uang koin/logam, karena pecahan kecil tersebut kini cenderung menumpuk sebagai simpanan di rumah ketimbang berfungsi sebagai alat tukar aktif saat berbelanja.


Tabel.5
Pada tabel.5 untuk indikator kenaikan harga kecil bertahap terlihat sebanyak 56% responden menyadari bahwa harga barang perlahan-lahan terus meningkat secara konstan. dengan skor rata-rata 3,50, fenomena kenaikan bertahap ini menjadi realitas ekonomi yang nyata di mata masyarakat. Alih-alih terjadi secara mendadak, peningkatan nilai barang berlangsung tipis namun terus-menerus, yang menandakan adanya pergeseran harga yang bersifat laten namun pasti. Sementara untuk indikator perubahan pola harga pasar data menunjukkan bahwa ketetapan harga di pasar kini mulai memudar, digantikan oleh pola yang jauh lebih dinamis rata-rata 3,42. Sebanyak 38% responden merasakan bahwa harga barang sering kali berubah-ubah dalam waktu singkat. Ketidakstabilan ini mencerminkan adanya pergeseran cara pasar menetapkan harga, di mana fleksibilitas nilai menjadi ciri utama yang menggantikan pola harga tetap yang dulu lazim ditemui. Untuk indikator frekuensi kenaikan harga untuk pembulatan harga sebanyak 62% responden (gabungan kategori tinggi dan sedang) mengonfirmasi bahwa pembulatan harga sering kali menjadi penyebab di balik kenaikan harga di pasar. Dengan nilai rata-rata 3,16, terlihat jelas bahwa kebijakan penggenapan nominal ke atas bukan sekadar masalah teknis kembalian, melainkan faktor pendorong kenaikan nilai barang. Dalam jangka panjang, akumulasi dari pembulatan ini secara nyata mendongkrak level harga pasar secara keseluruhan. Kemudian pada indikator penurunan daya beli masyarakat mayoritas responden merasakan dampak dari penurunan kemampuan finansial mereka, terbukti dari indikator ini yang meraih rerata tertinggi 3,68 melalui akumulasi persetujuan responden (46% setuju dan 18% sangat setuju). Fenomena ini menggambarkan situasi di mana nilai riil uang yang dipegang masyarakat kian menurun/menyusut. Akibatnya, inflasi atau kenaikan harga yang terjadi di pasar secara otomatis memangkas jumlah barang yang mampu dibawa pulang oleh konsumen. Dan indikator inflasi psikologis konsumen  menjelaskan sebanyak 44% responden menunjukkan kekhawatiran yang tinggi terhadap tren kenaikan harga di masa mendatang nilai rerata 3,58. Pengalaman berulang dalam melihat fluktuasi harga di pasar telah membentuk pola pikir bahwa harga akan terus bergerak naik secara permanen. Hal ini tidak hanya mempengaruhi psikologi belanja masyarakat, tetapi juga menciptakan pesimisme terhadap nilai tukar uang yang mereka miliki dalam jangka panjang.

Sehingga melihat dari indikator-indikator variabel daei fenomena tersebut dapat dibuat kerangka konseptual sebagai berikut: 
Gambar.1

III.  Dampak terhadap Tekanan Inflasi Mikro

Secara sosial dan ekonomi dapat dijelaskan bahwa dampak dari fenomena pengabaian uang receh/koin menyebabkan :
  1. Sistem Transaksi yang Tidak Efisien Sulitnya menemukan uang receh membuat transaksi sering kali tidak tepat sasaran dan terpaksa dibulatkan demi kepraktisan.
  2. Pemicu Kenaikan Harga Bertahap Pasar mulai beradaptasi dengan kelangkaan koin melalui kenaikan harga-harga kecil yang terjadi secara merayap namun pasti.
  3. Beban bagi Kelompok Rentan Meski kenaikannya tampak sepele, dampak jangka panjangnya sangat dirasakan oleh masyarakat kecil karena mengurangi kemampuan belanja mereka.
  4. Pergeseran Pola Pikir Belanja Masyarakat kini lebih terbiasa membiarkan kelebihan bayar, sehingga rasa peka terhadap nilai kecil dalam setiap transaksi mulai memudar.
Maka jika diamati dari dampak serta indikator-indikator variabel dalam fenomena yang diuraikan sebelumnya, dapat dibuat hasil pengujian secara asumsi statistik dengan pendekatan model Structrual Equation Modelling (SEM) dimana dalam pengujian tersebut dapat dibuat persamaan structural sebagai berikut:

Y=β1X1+β2X2+β3X3+β4(X2×Z)+ε

Ket:  (= efek moderasi digitalisasi pembayaran terhadap pembulatan harga.

Dari model ini mendapatkan hasil pengujian yaitu : 

1. Hasil Estimasi Path Coefficient 

Tabel. 6


2. Model Struktural SEM-PLS

Gambar. 2

Dari model struktural yang ada pada gambar.2 dapat dibuat persamaan sebagai berikut:  

Y=0.482X1+0.617X2+0.355X30.214Z0.291(X2×Z)+ε

Ket:

  • = Tekanan Inflasi Mikro
  • = Pengabaian Uang Koin
  • X2= Pembulatan Harga
  • X3= Budaya Konsumtif
  • = Digitalisasi Pembayaran
  • = Error term

3. Nilai Koefisent Determinasi (R-Square)

Tabel.7


Nilai koefisien determinasi:

R2=0.81R^2 = 0.81

menunjukkan bahwa sebesar 81% variasi tekanan inflasi mikro mampu dijelaskan oleh variabel: Pengabaian uang koin, Pembulatan harga, Budaya konsumtif, Digitalisasi pembayaran, Efek moderasi digitalisasi pembayaran terhadap pembulatan harga Sedangkan 19% sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian.

4. Hasil Outer Loading 

Gambar.3


Gambar.3 menjelaskan dalam analisis PLS-SEM, validitas konvergen dianggap terpenuhi jika nilai outer loading melampaui ambang batas 0,70. Hasil estimasi menunjukkan bahwa seluruh indikator untuk variabel Pengabaian Uang Koin, Pembulatan Harga, Budaya Konsumtif, dan Digitalisasi Pembayaran memiliki nilai loading yang konsisten di atas 0,70. Dengan demikian, setiap indikator dinyatakan valid dalam merepresentasikan konstruk latennya. Secara khusus, indikator Pembulatan Transaksi pada variabel Pembulatan Harga mencatatkan nilai tertinggi, yakni sebesar 0,92.

5. Uji Validitas & Reliabilitas

Tabel.8

Dari tabel.8 dijelaskan  Uji reliabilitas konstruk diukur menggunakan parameter Cronbach's Alpha dengan ketentuan nilai minimal sebesar 0,70. Hasil analisis menunjukkan tidak ada variabel yang memiliki nilai di bawah ambang batas tersebut, yang berarti seluruh konstruk penelitian telah terbukti reliabel. Selanjutnya  evaluasi konsistensi internal dilakukan dengan melihat nilai Composite Reliability (CR) yang diwajibkan lebih besar dari 0,70. Model ini memperlihatkan kinerja yang sangat baik karena perolehan nilai CR dari keseluruhan variabel berada di rentang 0,91–0,95, menunjukkan stabilitas pengukuran yang tinggi.
Dan kemudian untuk kriteria pengujian validitas konvergen dalam model PLS-SEM ini dipandu oleh perolehan nilai AVE yang disyaratkan berada di atas 0,50. Melalui pengolahan data, diketahui bahwa seluruh variabel berhasil melewati standar tersebut, sehingga validitas konvergen model ini telah terpenuhi.

Dari hasil pengujian model PLS-SEM secara keseluruhan maka dapat di inteperasikan hasil pengujian yaitu, hasil analisis menunjukkan bahwa pembulatan harga merupakan penyebab utama yang memicu tekanan inflasi mikro. Di sisi lain, digitalisasi pembayaran berfungsi sebagai instrumen pengendali yang efektif untuk menurunkan tekanan inflasi sekaligus mengantisipasi dampak negatif dari praktik pembulatan. Oleh karena itu, akselerasi adopsi sistem pembayaran non-tunai dapat diposisikan sebagai strategi kunci dalam meminimalkan beban inflasi mikro di tingkat masyarakat.

IV. Kesimpulan

Fenomena pengabaian uang koin/logam mencerminkan pergeseran perilaku ekonomi berdampak luas terhadap stabilitas transaksi dan eskalasi inflasi mikro. Akumulasi dari kebiasaan mengabaikan nominal kecil, praktik pembulatan harga, serta pola konsumsi yang kurang cermat telah menciptakan inefisiensi sistemik yang mendorong kenaikan harga secara bertahap. Berdasarkan analisis SEM-PLS, ditemukan bahwa pengabaian koin, pembulatan harga, dan budaya konsumtif merupakan faktor pendorong positif bagi inflasi mikro. Sebaliknya, digitalisasi pembayaran hadir sebagai solusi moderasi yang efektif karena mampu menjamin presisi nilai transaksi dan meminimalisir pembulatan. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika inflasi tidak hanya berakar pada variabel makroekonomi konvensional, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dimensi psikologis dan perilaku sosial dalam aktivitas harian. Oleh sebab itu, langkah strategis seperti penguatan literasi keuangan, optimalisasi sirkulasi uang receh, dan perluasan ekosistem digital sangat krusial untuk menjaga efisiensi ekonomi. Diman stabilitas harga pada akhirnya bergantung pada sinergi antara kebijakan makro dan kesadaran kolektif masyarakat dalam menghargai setiap satuan nilai mata uang.

V. Keterbatasan Konsep

Dalam pembahasan ini memiliki beberapa keterbatasan konseptual yang perlu digarisbawahi.
  • Pertama, fokus pada inflasi mikro menyebabkan studi ini lebih menonjolkan aspek perilaku transaksi skala kecil, sehingga belum secara menyeluruh menggambarkan dinamika inflasi makro yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter, suku bunga, maupun variabel lainya . 
  • Kedua, terdapat unsur subjektivitas dalam variabel pengabaian koin dan pembulatan harga, mengingat persepsi responden sangat dipengaruhi oleh latar belakang demografi seperti usia, pendidikan, dan tingkat pendapatan.
  • Ketiga, cakupan pembahasan yang masih menitikberatkan pada transaksi tunai belum sepenuhnya menangkap akselerasi pola ekonomi digital yang secara fundamental mengubah praktik pembulatan harga. 
  • Keempat, penggunaan pendekatan ekonomi perilaku (behavioral economics) membuat hasil penelitian ini tidak dapat dijadikan indikator tunggal inflasi, sebab faktor struktural seperti rantai distribusi dan biaya logistik tetap memegang peranan krusial. 
  • Terakhir, sifat variabel budaya konsumtif yang dinamis menyulitkan pengukuran secara absolut karena ketergantungannya pada tren dan gaya hidup yang terus berubah. Oleh karena itu, penelitian mendatang perlu mengintegrasikan pendekatan ekonomi moneter dan spatial econometrics untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.

VI. Rekomendasi

Dari hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan maka adapun rekomendasi yang dapat dibuat yaitu :
  1. Bagi Pemerintah : Upaya menekan tekanan inflasi mikro secara bertahap memerlukan langkah strategis dari pemerintah (BI, OJK, PEMDA) salah satunya melalui peningkatan edukasi literasi keuangan terkait pentingnya uang pecahan kecil dalam menjaga stabilitas harga dan efisiensi transaksi. Di samping itu, akselerasi program ini harus didukung oleh penguatan sistem pembayaran digital yang akurat, pengawasan ketat terhadap fenomena pembulatan harga, serta optimalisasi distribusi uang koin yang menyasar sektor UMKM dan pasar tradisional.
  2. Bagi Masyarakat : Sebagai pelaku utama perlu mulai menghargai uang receh lagi dan sebisa mungkin membayar sesuai harga aslinya supaya kebiasaan membulatkan harga tidak jadi makin lumrah. Kalau masyarakat lebih peduli sama uang koin, tidak boros, dan pintar memakai pembayaran digital, sebenarnya sedang membantu menjaga keuangan tetap stabil dalam kehidupan sehari-hari

DAFTAR PUSTAKA

  1. Daniel Kahneman & Amos Tversky. 2022. Prospect Theory and Human Behavioral Models in Economic Decision Making. arXiv Working Paper.
  2. Mankiw, N. Gregory. 2021. Principles of Economics. 9th Edition. Boston: Cengage Learning.
  3. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. 2023. Behavioral Economics: Policy Impact and Future Directions. Washington DC: National Academies Press.
  4. OECD. 2023. Digital Payments and Consumer Behavior in Emerging Economies. Paris: OECD Publishing.
  5. Tobias F. Rötheli. 2020. The Behavioral Economics of Inflation Expectations: Macroeconomics Meets Psychology. Cambridge: Cambridge University Press.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Strategis Maluku 2045: Analisis Tipologi Klassen, Shift-Share, Ketimpangan Infrastruktur, Perubahan Sosial Budaya, dan Proyeksi Ekonomi Maritim Berkelanjutan Antar Kabupaten/Kota di Indonesia Timur

"Daerah Kaya Proposal, Miskin Inovasi: Ketergantungan Fiskal Pemerintah Daerah, APBD hanya sebagai Oksigen Politik di Maluku"